Kontemporari

Kajian Awal Terhadap Perlunya Epistemologi Islam

Oleh: Adnin Armas, M.A.
(Disampaikan pada Pekan Kajian Islam di FIB UI pada 22 Feb 2007)

Pendahuluan

Peradaban Barat telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Ilmu dalam Peradaban Barat telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ‘ilmiah.’ Westernisasi ilmu telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan, menolak Wahyu dan kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan menjadikan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional sebagai basis keilmuan. Akibatnya, peradaban Barat telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah.Syed Muhammad Naquib al-Attas menyimpulkan ilmu pengetahuan modern yang dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat dijiwai oleh 5 faktor: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Sumber Ilmu dalam Islam


Dalam pandangan Islam, ilmu adalah mungkin. Jadi, pemikiran skeptisisme, relatifisme, agnotisisme tidaklah tepat. Selain itu, ilmu dalam Islam tidak terlepas dari Wahyu. Ini disebabkan ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan, dan diraih melalui saluran-saluran sebagai berikut:

I. Panca indera (hawass):

(i) Panca indera eksternal: sentuhan (touch), penciuman (smell), rasa (taste), penglihatan (sight) dan pendengaran (hearing)

(ii) Panca indera internal: akal sehat (common sense), representasi (representation), estimasi (estimation), retention (retensi), rekoleksi (recollection) dan khayalan (imagination).

II. Riwayat benar (khabar sadiq) berdasar kepada otoritas (naql):

(i) otoritas mutlak (absolute authority)

(a) otoritas Tuhan (divine authority) seperti al-Qur’an

(b) otoritas kenabian (prophetic authority), yaitu Nabi

(ii) otoritas relatif

(a) ijma para ulama (tawatur)

(b) riwayat orang-orang yang amanah secara umum

III. Intelek (aql)

(i) akal sehat (ratio)

(ii) intuisi (hads, wijdan).

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan modern yang saat ini dihasilkan oleh peradaban Barat tidak serta-merta harus diterapkan di dunia Muslim. Sebabnya, ilmu bukan bebas-nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari terdapatnya persamaan antara Islam dengan filsafat dan sains modern menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat juga sejumlah perbedaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) mengenai Realitas akhir. Baginya, dalam Islam, Wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta.Wahyu merupakan dasar kepada kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme dan empirisesme. Tanpa Wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan yang otentik (science is the sole authentic knowledge). Tanpa Wahyu, ilmu pengetahuan ini hanya terkait dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Tanpa Wahyu, realitas yang dipahami hanya terbatas kepada alam nyata ini yang dianggap satu-satunya realitas. Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah agama yang mengatasi dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai Islam bukan hanya untuk masa dahulu, namun juga sekarang dan akan datang. Nilai-nilai yang ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memiliki pandangan-hidup mutlaknya sendiri, merangkumi persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta dll. Islam memiliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak.

Mendiagnosa virus yang terkandung dalam Westernisasi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-Attas mengobatinya dengan Islamisasi ilmu. Alasannya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral dan telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan.

Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu, tidak semua dari Barat berarti ditolak. Sebabnya, terdapat sejumlah persamaan antara Islam dan filsafat dan sains Barat. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, ia perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan-hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth). Realitas dan kebenaran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kajian kepada metafisika terhadap dunia yang nampak dan tidak nampak.
 
Jadi, pandangan-hidup Islam mencakup dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. Pandangan–hidup Islam tidak berdasarkan kepada metode dikotomis seperti obyektif dan subyektif, historis dan normatif. Namun, realitas dan kebenaran dipahami dengan metode yang menyatukan (tawhid). Pandangan-hidup Islam bersumber kepada wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi. Substansi agama seperti: nama, keimanan dan pengamalannya, ibadahnya, doktrinya serta sistem teologinya telah ada dalam wahyu dan dijelaskan oleh Nabi. Islam telah lengkap, sempurna dan otentik. Tidak memerlukan progresifitas, perkembangan dan perubahan dalam hal-hal yang sudah sangat jelas (al-ma'lum min al-din bi al-darurah). Pandangan-hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait seperti konsep Tuhan, wahyu, pencipatan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan dan kemajuan. Pandangan-hidup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain.
 
Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan-hidup Islam dan Barat, maka proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini (the Islamization of present-day knowledge), melibatkan dua proses yang saling terkait:
 
i) mengisoliir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat (5 unsur yang telah disebutkan sebelumnya), dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teori-teori.
 
Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan-hidup Islam, maka fakta menjadi tidak benar. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.
 
ii) memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant.
 
Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia dari magik, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekular kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dari keraguan (shakk), dugaan (Ðann) dan argumentasi kosong (mirÉ’) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan ungkapan sekular.
 
Sebagai kesimpulan, “revolusi epistemologis” diperlukan sebagai jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda konsep ilmu dalam budaya dan peradaban Barat.

 


RUJUKAN 
 
 

  1. Lihat definisi Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai ‘peradaban Barat’ dalam karyanya Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, edisi kedua, 1993), 133-35, selanjutnya diringkas Islam and Secularism.
  2. Ibid., 137.
  3. Lihat kritikannya terhadap sekularisasi dalam karyanya Islam and Secularism, 38-43.
  4. Lihat kritikannya di dalam karyanya Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 88; 99-108, selanjutnya disingkat Prolegomena.
  5. Dikutip dari Adi Setia, “Special Feature of The Philosophy of Science of Syed Muhammad Naquib al-Attas,” dalam Islam & Science 1 (2003), No. 2, 189.
  6. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 134.
  7. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), 49. Sekalipun Risalah diterbitkan pada tahun 2001, namun sebenarnya naskah tersebut sudah ada sejak tahun 1973. Gagasan yang ada di dalam naskah tersebut dikembangkan menjadi beberapa karya monograf.
  8. Sumber dan Metode Ilmu pengetahuan menurut Naquib al-Attas adalah (I) Panca-indera yang meliputi 5 indera eksternal seperti sentuh, bau, rasa, lihat, dan dengar, serta 5 indera internal seperti represntasi, estimasi, retensi (retention), mengimbas kembali (recollection) dan khayalan. (II) Khabar yang benar didasarkan kepada otoritas (naql): yaitu otoritas absolut yaitu otoritas ketuhanan (al-Qur’an) dan otoritas kenabian (rasul) dan otoritas relatif, yaitu konsensus para ulama (tawatur) dan khabar dari orang-orang yang terpecaya secara umum dan (III) Akal yang sehat dan intuisi. Lihat skema struktur epistemologi Naquib al-Attas dalam Adi Setia, “Philosophy of Science of Syed Muhammad Naquib al-Attas,” Islam & Science 1 (2003), No. 2., 189.
  9. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and the Philosophy of Science (Kuala Lumpur: ISTAC, 1989), 9.
  10. Ibid., 4.
  11. Ibid., 5.
  12. Wan Mohd Nor Wan Daud , The Educational Philosophy, 298.
  13. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 30-32.
  14. Syed Muhammad Naquib al-Attas telah membahas isu-isu Islamisasi dan Westernisasi pada akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an. Lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas - An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), 237, selanjutnya diringkas The Educational Philosophy.
  15. Ibid., 291.
  16. Ibid., 313-14.
  17. Lihat uraian komprehensif Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai pandangan-hidup Islam dalam Prolegomena, 1-39.
  18. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 313.
  19. Ibid., 313.
  20. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena, 114.
  21. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 313.
  22. Al-Attas menyatakan: “Islamization is the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.” Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, 44.
  23. Wan Mohd Nor Wan Daud , The Educational Philosophy, 312.
  24. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, 43.
  25. Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdul Karim Sorush dan Bassam Tibi menolak gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Pemaparan lebih mendalam mengenai kritikan dan jawaban atas kritikan tersebut lihat karya Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy.

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.